Pages

Pages

Wednesday, June 10, 2026

DEMOKRASI YANG BISING: KETIKA POLITIK IDENTITAS DAN BUZZER MENGANCAM KEADILAN PEMILU

QUO VADIS DEMOKRASI INDONESIA: ANCAMAN POLITIK IDENTITAS DAN BUZZER TERHADAP ELECTORAL JUSTICE DI ERA DIGITAL

Prawasti Hadiwardoyo-255030101111060
Program Studi Administrasi Publik
Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur


PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat keberagaman yang tinggi, baik dari aspek suku, agama, ras, budaya, maupun bahasa. Keberagaman tersebut menjadi salah satu identitas utama bangsa Indonesia yang tercermin dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Dalam sistem demokrasi, keberagaman tersebut seharusnya menjadi modal sosial untuk mendorong partisipasi politik yang inklusif dan memperkuat persatuan nasional. Namun, dalam praktiknya, keberagaman sering kali dimanfaatkan sebagai instrumen politik untuk memperoleh dukungan elektoral melalui apa yang dikenal sebagai politik identitas. Politik identitas merupakan strategi politik yang memanfaatkan kesamaan identitas kelompok tertentu, seperti agama, etnis, maupun budaya, sebagai dasar mobilisasi dukungan politik (Fajri, 2023).

Pada awal kemunculannya, politik identitas berfungsi sebagai sarana perjuangan kelompok-kelompok yang merasa termarginalkan agar memperoleh pengakuan dan kesetaraan dalam kehidupan politik. Akan tetapi, dalam perkembangan politik kontemporer, politik identitas kerap mengalami pergeseran fungsi menjadi alat mobilisasi massa yang digunakan oleh elite politik untuk memperoleh keuntungan elektoral. Penggunaan simbol-simbol identitas secara berlebihan berpotensi menggeser kompetisi politik yang seharusnya berorientasi pada gagasan, program, dan kapasitas kepemimpinan menjadi kompetisi yang didasarkan pada sentimen kelompok. Kondisi tersebut dapat memunculkan polarisasi sosial, memperlemah kohesi masyarakat, serta mengancam kualitas demokrasi (Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia, 2022).

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi semakin memperluas pengaruh politik identitas dalam ruang publik. Kehadiran media sosial telah mengubah pola komunikasi politik menjadi lebih cepat, masif, dan sulit dikendalikan. Di satu sisi, media sosial membuka ruang partisipasi politik yang lebih luas bagi masyarakat. Namun di sisi lain, media sosial juga menjadi sarana penyebaran disinformasi, propaganda, ujaran kebencian, dan narasi identitas yang dapat memperdalam polarisasi politik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa media sosial mampu mempercepat terbentuknya kelompok-kelompok yang hanya terpapar informasi sesuai dengan preferensi politiknya sehingga memperkuat fenomena echo chamber dalam masyarakat (Susanto, 2025).

Dalam konteks tersebut, muncul fenomena buzzer politik yang semakin menonjol dalam berbagai kontestasi politik di Indonesia. Buzzer politik merupakan individu maupun kelompok yang secara sistematis menyebarkan pesan politik melalui platform digital dengan tujuan membentuk opini publik. Aktivitas buzzer tidak hanya digunakan untuk mempromosikan citra kandidat atau kelompok tertentu, tetapi juga sering kali digunakan untuk menyebarkan kampanye negatif, membangun narasi identitas, serta menyerang lawan politik melalui berbagai bentuk disinformasi. Fenomena ini menjadi perhatian serius karena berpotensi memengaruhi independensi pemilih dan mengaburkan kualitas informasi yang diterima masyarakat selama proses demokrasi berlangsung (Daeni et al., 2023). Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa buzzer politik berperan dalam menggiring opini publik, menyebarkan kampanye negatif, hingga memengaruhi persepsi masyarakat terhadap kandidat tertentu sehingga berpotensi mengganggu proses demokrasi yang sehat.

Praktik politik identitas yang diperkuat oleh aktivitas buzzer politik pada akhirnya dapat menimbulkan ancaman terhadap prinsip electoral justice atau keadilan pemilu. Electoral justice menghendaki bahwa setiap warga negara memperoleh kesempatan yang setara untuk berpartisipasi dalam pemilu yang berlangsung secara jujur, adil, dan bebas dari manipulasi informasi. Ketika ruang digital dipenuhi oleh narasi identitas yang provokatif, hoaks, serta upaya penggiringan opini secara masif, kualitas demokrasi berpotensi mengalami kemunduran karena masyarakat tidak lagi menentukan pilihan politik berdasarkan pertimbangan rasional, melainkan berdasarkan sentimen identitas yang dibangun secara sistematis (Daeni et al., 2023). Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa buzzer dapat mengganggu integritas pemilu melalui penyebaran informasi yang menyesatkan dan manipulasi opini publik yang bertentangan dengan prinsip electoral justice.

Berdasarkan kondisi tersebut, esai ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana politik identitas dan fenomena buzzer memengaruhi kualitas demokrasi Indonesia, khususnya terhadap prinsip electoral justice di era digital. Selain itu, esai ini juga berupaya menjawab pertanyaan mengenai arah perkembangan demokrasi Indonesia (quo vadis demokrasi Indonesia) di tengah semakin kuatnya pengaruh politik identitas dan komunikasi politik digital dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


PEMBAHASAN

Politik Identitas dalam Demokrasi Indonesia

Politik identitas merupakan pendekatan politik yang memanfaatkan identitas kelompok tertentu, seperti agama, suku, ras, budaya, maupun gender, sebagai dasar untuk memperoleh dukungan politik. Pada dasarnya, politik identitas tidak selalu bersifat negatif. Dalam beberapa kasus, politik identitas justru menjadi sarana bagi kelompok minoritas atau kelompok yang termarginalkan untuk memperjuangkan hak, pengakuan, dan kesetaraan dalam kehidupan sosial maupun politik (Susanto et al., 2025).

Namun, dalam praktik politik kontemporer Indonesia, politik identitas sering kali mengalami pergeseran fungsi. Identitas tidak lagi digunakan sebagai sarana perjuangan kelompok yang kurang terwakili, melainkan dimanfaatkan sebagai instrumen mobilisasi politik untuk memperoleh dukungan elektoral. Penggunaan simbol agama, etnis, maupun identitas sosial lainnya kerap dijadikan alat kampanye untuk membangun loyalitas kelompok tertentu. Akibatnya, kompetisi politik yang seharusnya berfokus pada program, gagasan, dan kapasitas kepemimpinan bergeser menjadi kompetisi berbasis sentimen identitas (Zakiah et al., 2024).

Fenomena tersebut menjadi tantangan bagi demokrasi Indonesia yang dibangun di atas prinsip keberagaman. Dalam masyarakat yang majemuk, penggunaan identitas secara berlebihan berpotensi memunculkan polarisasi sosial karena masyarakat mulai melihat perbedaan identitas sebagai batas antara kelompok “kita” dan “mereka”. Kondisi ini sejalan dengan pandangan Ulum (2023) yang menyatakan bahwa politik identitas dapat memunculkan fragmentasi sosial apabila identitas digunakan untuk menciptakan perbedaan dan pertentangan antarkelompok. Politik identitas yang berlebihan bahkan dapat mengancam kohesi sosial dan mengurangi ruang dialog yang sehat dalam kehidupan demokrasi.

Selain itu, menguatnya politik identitas juga berpotensi mengurangi kualitas partisipasi politik masyarakat. Pilihan politik yang semestinya didasarkan pada evaluasi terhadap program kerja dan kapasitas kandidat dapat berubah menjadi pilihan yang didasarkan pada kesamaan identitas. Akibatnya, proses demokrasi tidak lagi menghasilkan kompetisi yang substantif, melainkan hanya memperkuat pembelahan sosial dalam masyarakat.

Fenomena Buzzer Politik di Era Digital

Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan menyebarkan informasi politik. Media sosial kini menjadi salah satu ruang publik utama yang digunakan masyarakat untuk berdiskusi, membentuk opini, dan berpartisipasi dalam kehidupan politik. Di tengah perkembangan tersebut, muncul fenomena buzzer politik yang semakin berpengaruh dalam berbagai kontestasi politik di Indonesia.

Buzzer politik dapat dipahami sebagai individu maupun kelompok yang secara aktif menggunakan media sosial untuk menyebarkan pesan politik, memengaruhi opini publik, serta membangun persepsi tertentu terhadap kandidat atau partai politik (Wulandari et al., 2023). Pada awalnya, buzzer digunakan dalam dunia pemasaran untuk mempromosikan produk atau jasa. Namun, seiring perkembangan media digital, peran buzzer meluas ke ranah politik dan mulai digunakan untuk membangun citra politik maupun menyerang lawan politik.

Fenomena buzzer menjadi semakin menonjol karena media sosial memungkinkan penyebaran informasi secara cepat dan masif. Dengan jumlah pengikut yang besar serta kemampuan membangun percakapan di ruang digital, buzzer mampu memengaruhi persepsi publik terhadap suatu isu politik. Tidak jarang aktivitas buzzer dilakukan secara terorganisasi untuk mendukung kepentingan politik tertentu melalui penyebaran narasi yang menguntungkan kelompoknya maupun merugikan pihak lawan (Daeni et al., 2023).

Meskipun keberadaan buzzer dapat menjadi sarana komunikasi politik yang efektif, praktiknya sering kali diwarnai dengan penyebaran hoaks, kampanye hitam, serta manipulasi informasi. Wulandari et al. (2023) menjelaskan bahwa maraknya penyebaran informasi yang tidak terverifikasi melalui media sosial berpotensi menimbulkan keresahan sosial dan memperburuk kualitas diskursus politik. Oleh karena itu, fenomena buzzer tidak hanya menjadi isu komunikasi digital, tetapi juga menjadi persoalan yang berkaitan dengan kualitas demokrasi dan tata kelola ruang publik.

Politik Identitas dan Buzzer sebagai Ancaman terhadap Electoral Justice

Salah satu prinsip utama dalam demokrasi adalah electoral justice atau keadilan pemilu. Konsep ini menghendaki agar seluruh proses pemilu berlangsung secara jujur, adil, transparan, dan memberikan kesempatan yang setara kepada setiap warga negara untuk menggunakan hak politiknya (Daeni et al., 2023).

Dalam konteks tersebut, kombinasi antara politik identitas dan aktivitas buzzer dapat menjadi ancaman serius terhadap kualitas demokrasi. Politik identitas menyediakan narasi yang mampu membangkitkan emosi kelompok tertentu, sedangkan buzzer berperan menyebarluaskan narasi tersebut secara cepat dan luas melalui media sosial. Akibatnya, ruang publik digital dipenuhi oleh informasi yang lebih menonjolkan sentimen identitas dibandingkan diskusi mengenai program dan kebijakan publik.

Penelitian Susanto et al. (2025) menunjukkan bahwa penggunaan isu SARA, simbol keagamaan, serta narasi digital melalui buzzer dan influencer berkontribusi terhadap munculnya polarisasi sosial, disinformasi, dan pembunuhan karakter politik. Kondisi ini menyebabkan masyarakat semakin terbelah ke dalam kelompok-kelompok yang saling berseberangan berdasarkan identitas maupun preferensi politik.

Fenomena tersebut diperparah oleh munculnya echo chamber dalam media sosial. Menurut Agustina et al. (2026), algoritma media sosial cenderung menampilkan informasi yang sesuai dengan preferensi pengguna sehingga masyarakat lebih sering terpapar pada pandangan yang sejalan dengan keyakinannya sendiri. Akibatnya, keterbukaan terhadap perspektif lain semakin berkurang dan polarisasi politik menjadi semakin tajam.

Selain memicu polarisasi, aktivitas buzzer juga dapat memengaruhi kebebasan pemilih dalam menentukan pilihan politik secara rasional. Penyebaran informasi yang menyesatkan, manipulatif, dan tidak akurat berpotensi mengarahkan masyarakat pada keputusan politik yang didasarkan pada emosi maupun sentimen identitas, bukan pada penilaian objektif terhadap kapasitas kandidat. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengurangi integritas pemilu dan melemahkan kualitas demokrasi Indonesia.

Quo Vadis Demokrasi Indonesia di Era Digital

Menghadapi tantangan tersebut, demokrasi Indonesia memerlukan berbagai upaya untuk menjaga kualitas partisipasi politik dan memperkuat persatuan nasional. Salah satu langkah yang penting adalah meningkatkan literasi digital masyarakat. Kemampuan untuk memilah informasi, mengenali hoaks, serta memahami cara kerja media sosial menjadi sangat penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh narasi provokatif yang disebarkan melalui ruang digital.

Selain itu, pendidikan kewarganegaraan perlu diarahkan pada penguatan nilai toleransi, keberagaman, dan penghormatan terhadap perbedaan. Sebagaimana dijelaskan dalam materi Quo Vadis Politik Identitas, keberagaman seharusnya dipahami sebagai kekuatan bangsa yang dapat memperkokoh demokrasi, bukan sebagai sumber konflik dan perpecahan.

Pemerintah juga perlu memperkuat regulasi serta pengawasan terhadap penyebaran disinformasi dan aktivitas digital yang berpotensi merusak kualitas demokrasi. Meskipun kebebasan berekspresi merupakan hak setiap warga negara, kebebasan tersebut tetap harus dijalankan secara bertanggung jawab agar tidak merugikan kepentingan publik maupun mengancam integritas pemilu.

Pada akhirnya, masa depan demokrasi Indonesia bergantung pada kemampuan seluruh elemen bangsa untuk menggeser orientasi politik dari identitas menuju gagasan dan program. Demokrasi yang sehat bukanlah demokrasi yang memenangkan kelompok tertentu berdasarkan identitasnya, melainkan demokrasi yang mampu menghasilkan kebijakan publik terbaik melalui kompetisi yang adil, rasional, dan inklusif. Dengan demikian, politik identitas dan perkembangan teknologi digital tidak menjadi ancaman, tetapi justru dapat diarahkan untuk memperkuat kualitas demokrasi Indonesia di masa depan.


PENUTUP

Demokrasi Indonesia dibangun di atas fondasi keberagaman yang menjadi ciri khas bangsa. Dalam konteks tersebut, politik identitas pada dasarnya bukanlah sesuatu yang sepenuhnya negatif karena dapat menjadi sarana representasi dan perjuangan bagi kelompok-kelompok tertentu dalam memperoleh pengakuan serta kesetaraan hak. Namun, dalam praktik politik kontemporer, politik identitas sering kali mengalami pergeseran fungsi menjadi alat mobilisasi elektoral yang lebih menekankan sentimen kelompok dibandingkan gagasan dan program kebijakan. Kondisi ini berpotensi memunculkan polarisasi sosial, memperlemah kohesi masyarakat, serta menurunkan kualitas demokrasi.

Perkembangan media sosial semakin memperkuat pengaruh politik identitas melalui munculnya fenomena buzzer politik. Dengan kemampuan menyebarkan informasi secara cepat dan masif, buzzer berperan dalam membentuk opini publik, memperkuat narasi identitas, hingga menyebarkan disinformasi yang dapat memengaruhi pilihan politik masyarakat. Kombinasi antara politik identitas dan aktivitas buzzer pada akhirnya menjadi tantangan serius bagi prinsip electoral justice karena berpotensi mengganggu proses pemilu yang jujur, adil, dan rasional. Akibatnya, keputusan politik masyarakat tidak lagi sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan objektif terhadap kapasitas dan program kandidat, melainkan dipengaruhi oleh sentimen identitas serta informasi yang belum tentu benar.

Oleh karena itu, masa depan demokrasi Indonesia perlu diarahkan pada penguatan literasi digital, pendidikan kewarganegaraan yang inklusif, serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman. Selain itu, diperlukan komitmen bersama dari pemerintah, penyelenggara pemilu, media, dan masyarakat untuk menciptakan ruang publik digital yang sehat dan bertanggung jawab. Dengan demikian, demokrasi Indonesia dapat berkembang menjadi demokrasi yang tidak terjebak dalam politik identitas yang eksklusif, melainkan demokrasi yang berorientasi pada gagasan, kualitas kepemimpinan, dan kepentingan bersama demi terwujudnya kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih adil, inklusif, dan berkeadaban.


DAFTAR PUSTAKA

Agustina, A. D., Wijaya, H. A., Attalah, F., & Santoso, R. (2026). Rekonstruksi politik untuk menganalisis polarisasi dan gangguan demokrasi di media sosial Indonesia. Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Pendidikan, 4(2), 7–16.

Astuti, D., Agustang, A., & Idrus, I. I. (2023). Politik identitas dalam kontroversi isu di Indonesia. SIBATIK Journal, 2(6), 1769–1778. https://doi.org/10.54443/sibatik.v2i6.888

Daeni, F. I. M., Rachmarani, F. A., & Utama, I. R. (2023). Pengaruh buzzer politik dalam pemilu: Tantangan terhadap electoral justice dalam mempertahankan prinsip demokrasi. Padjadjaran Law Review, 11(2), 183–200. https://doi.org/10.56895/plr.v11i2.1288

Susanto, S., Abra, E. H., & Hadiyanto, A. (2025). Dinamika politik identitas dalam Pemilu 2024: Tantangan bagi konsolidasi demokrasi di Indonesia. Jurnal USM Law Review, 8(3), 1506–1523.

Ulum, M. C. (2023). Quo Vadis (Politik) Identitas? Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya.

Wulandari, C. D., Muqsith, M. A., & Ayuningtyas, F. (2023). Fenomena buzzer di media sosial jelang Pemilu 2024 dalam perspektif komunikasi politik. Avant Garde, 11(1), 134–147.

Zakiah, A. M., Maulana, M. R., Syahdan, M. S., & Rahmawati, N. (2024). Pengaruh politik identitas dalam kestabilan ketatanegaraan di Indonesia. Siyasah: Jurnal Hukum Tata Negara, 4(2), 180–193.

Wednesday, October 13, 2021

PPDB SMPK Santa Maria 2 Malang 2022 - 2023

 


PPDB SMPK Santa Maria 2 Malang 2022 - 2023

(Penerimaan Peserta Didik Baru)


👉Penerimaan Peserta Didik Baru di SMPK Santa Maria 2 Malang sudah di buka !!!👈

Bagi adik - adik kelas 6 SD, segera daftarkan diri kalian di SMPK Santa Maria 2 Malang, karena kapasitas pendaftaran terbatas. Jangan sampai terlambat! SMPK Santa Maria 2 Malang sudah terakreditasi A dan merupakan salah satu SMP Katolik terbaik di kota Malang. SMPK Santa Maria 2 Malang memiliki sarana prasarana yang lengkap untuk mendukung proses belajar mengajar. Di SMPK Santa Maria 2 Malang memiliki banyak sekali keunggulan - keunggulannya. Jadi segera mendaftar di SMPK Santa Maria 2 Malang !!!



💬 untuk info lebih lengkap bisa di lihat di instagram @smpksantamaria2malang_official

dan klik link di bawah ini ⬇⬇⬇

https://www.instagram.com/tv/CUddswqhj_-/?utm_source=ig_web_copy_link

Wednesday, August 25, 2021

Resep Kue Strawberry

 

STRAWBERRY CAKE RECIPE


Bahan :

* Untuk membuat lembaran bolu (loyang bundar 18cm)
  • 95g putih telur (dari 3 telur)
  • 90g gula pasir
  • 1 kuning telur
  • 90g tepung kue
  • 30g minyak sayur
  • 30g susu
  • 3g ekstrak vanila
* Untuk membuat sirup gula (rebus 3 bahan dibawah)
  • 60g air
  • 15g gula pasir
  • 6g kirsch (minuman keras cherry)
* Untuk menghaluskan strawberry 
  • 110g stroberi
  • 33g gula pasir
  • 10g jus lemon
* Untuk membuat krim strawberry 
  • 25g putih telur
  • 25g gula pasir
  • 30g strawberry yang sudah dihaluskan
  • 3g gelatin bubuk + 15g air dingin
  • 90g keju mascarpone
  • 90g krim kental
  • Sedikit pewarna makanan merah.
* Untuk membuat krim putih
  • 100g keju mascarpone
  • 80g susu kental manis
  • 10g jus lemon
  • 5g ekstrak vanila
  • 5g kirsch (minuman keras cherry)
  • 5g gelatin bubuk + 25g air dingin
  • 150g krim kental
  • 15g gula pasir
*Untuk membuat bubuk dekorasi
  • Bubuk strawberry
  • Gula halus.

Langkah Pembuatan :

1. Haluskan strawberry sehingga menjadi selai strawberry dengan cara :
  • Siapkan 110g strawberry dan belah strawberry menjadi 2 bagian.
  • Siapkan 1 buah lemon kemudian bagi menjadi 2 bagian dan peras lemon tersebut.
  • Siapkan panci dan masukkan strawberry yang telah di belah.
  • Masukkan 33g gula pasir.
  • Masukkan 10g jus lemon yang telah diperas tadi.
  • Didihkan di dalam panci dengan api kecil selama 5 - 7 menit.
  • Aduk sesekali agar strawberry tidak hangus/ gosong.
  • Jika sudah haluskan strawberry yang telah direbus tadi menggunakan blender.
  • Siapkan wadah dan saring agar biji strawberry tidak masuk.
  • Selai strawberry sudah jadi.
2. Membuat krim strawberry dengan cara :
  • Siapkan wadah dan campurkan 25g putih telur dan 25g gula pasir.
  • Aduk hingga merata dan masukkan wadah ke dalam panci.
  • Saat didalam panci, putih telur dan gula tetap diaduk.
  • Setelah itu dinginkan.
  • Sambil menunggu, siapkan wadah yang berisi 30g selai strawberry yang telah dibuat tadi.
  • Rendam 3g gelatin dalam 15g air dingin selama 5 menit dan lelehkan didalam microwave selama 10 detik. 
  • Masukkan gelatin yang meleleh didalam selai strawberry dan aduk.
  • Siapkan wadah kosong dan masukkan keju mascarpone 90g.
  • Campur keju dengan putih telur dan aduk hingga merata.
  • Didalam wadah keju mascarpone, masukkan selai strawberry + gelatin tadi dan aduk.
  • Siapkan 90g krim kental dan dikocok 50% dengan mixer.
  • Masukkan krim kental yang telah dikocok ke dalam wadah keju mascarpone tadi.
  • Aduk hingga merata dan jika warnanya kurang pink masukkan sedikit pewarna makanan merah.
  • Siapkan cincin mousse berdiameter 14cm dengan tinggi 2,5cm diatas piring.
  • Masukkan setengah krim strawberry tadi ke dalam cincin mousse.
  • Masukkan beberapa buah strawberri ke dalam krim strawberry tersebut.
  • Timpa strawberry dengan setengah krim strawberry yang sisa tadi.
  • Diamkan di dalam freezer lebih dari 3 jam.
3. Membuat lembaran bolu dengan cara :
  • Buat bolu dengan resep youtube ini (buat 2 yang berwarna pink saja)= Tutorial membuat bolu
  • Rapikan menggunakan cincin mousse berdiameter 16cm.
4. Membuat krim putih dengan cara :
  • Siapkan 5g gelatin + 25g air dingin lalu aduk dan diamkan selama 5 menit.
  • Siapkan wadah berisi 150g krim kental dan campur dengan 15g gula pasir.
  • Aduk krim kental dan gula dengan mixer (50% dikocok)
  • Siapkan wadah berisi 100g keju mascarpone dan aduk.
  • Campur keju mascarpone dengan 80g susu kental manis dan aduk hingga rata.
  • Masukkan 10g jus lemon + 5g ekstrak vanila + 5g kirsch kedalam wadah keju mascarpone.
  • Aduk semua hingga rata.
  • Masukkan krim kental yang tadi telah di campur gula kedalam wadah keju mascarpone dan aduk hingga rata.
  • Masukkan gelatin meleleh dan aduk.
  • Krim putih sudah jadi.
5. Memasukkan bolu dan krim putih kedalam cincin mousse dengan cara :
  • Buat sirup gula dengan merebus 3 bahan : 60g air, 15g gula pasir, 6g kirsch
  • Oleskan sirup gula di atas bolu menggunakan kuas.
  • Siapkan cincin mousse akrilik dengan tinggi 7cm dan berdiameter 16cm.
  • Masukkan 1 bolu pink dibagian paling bawah.
  • Siapkan beberapa buah strawberry dan potong menjadi 3 bagian.
  • Taruh irisan strawberry disamping dengan megeliling.
  • Masukkan setengah krim putih yang telah dibuat dan ratakan.
  • Masukan krim strawberry yang telah dibekukan tadi ketengah - tengah krim putih.
  • Timpa lagi menggunakan sisa krim putih tadi.
  • Ratakan krim putih dengan spatula offset yang dimasukkan kedalam air panas hingga permukaan halus.
  • Bersihkan ujung krim putih yang tada dipinggiran.
  • Timpa dengan 1 bolu pink dan oleskan krim kocok kental diatasnya dengan spatula offset.
  • Diamkan didalam freezer lebih dari 4 jam. 
6. Mulai mendekorasi dengan cara :
  • Lepas kue strawberry dari cincin mousse akrilik.
  • Diatasnya taburkan bubuk strawberry dan gula halus. 
  • Hias juga diatasnya dengan beberapa buah strawberry.
  • Kue strawberry sudah jadi.
Tutorial Youtube :





TERIMA KASIH

Tuesday, August 24, 2021

Makeup Dengan Aegyo Sal (Membuat Mata Terlihat Lebih Besar)

 



PENGERTIAN AEGYO SAL

  • Aegyo sal merupakan tren make up di Korea Selatan, yaitu tampilan yang mirip seperti lemak di bawah mata yang dibuat menarik / indah.
  • Untuk orang korea sendiri aegyo sal memiliki 2 opsi dalam pembuatannya yaitu operasi plastik dan juga make up.
  • Aegyo sal mengandung arti mata yang tersenyum. Seperti namanya mata yang tersenyum, jika mata kita tersenyum lebar maka akan ada lemak di bawah mata kita itulah yang namanya aegyo sal. Agyeo sal berbeda dengan kantung mata, kalo kantung mata itu lebih bawah dan membuat mata kita menjadi terlihat lelah, sementara aegyo sal itu merupakan lemak yang berada dibawah mata dan tidak terlalu bawah.
  • Perbedaan aegyo sal dan kantung mata : 


TUJUAN MAKE UP AEGYO SAL

  1. Membuat mata terkesan lebar dan terbuka.
  2. Membuat mata terlihat indah.
  3. Membuat mata terlihat lebih imut dan telihat seperti sedang tersenyum.

CONTOH MATA YANG MENGUNAKAN MAKE UP AEGYO SAL

1.  


2. 












3. 















4. 
















5 CARA UNTUK MEMBUAT MAKEUP AEGYO SAL

1. Gunakan cocealer untuk menutupi mata panda

Bagian hitam di sekitar mata dapat kita tutupi dengan concealer. Untuk mendapatkan aegyo-sal, pastikan untuk menyamarkan area hitam dibawah mata dengan concealer. Concealer ini akan menutup area hitam di sekitar mata sehingga warna kulit menjadi terlihat rata.

2. Gunakan aegyo-sal maker

Gunanya untuk menonjolkan lipatan di bawah mata. Beberapa brand kosmetik di Korea sudah mengeluarkan produk ini untuk membuat efek bayangan di bawah mata, sehingga mata tampak lebih besar dan bersinar. Cara pemakaiannya cukup mudah, yaitu dengan membuat outline di bawah mata mengikuti lemak bawah mata alami yang sudah dimiliki. Lalu isi bagian tersebut dengan highlighter agar tampak semakin puffy. 

3. Gunakan highlighter khusus mata untuk mengisi bagian kantung mata

Selain menggunakan aegyo-sal maker, kita juga memerlukan highlighter khusus mata untuk mengisi bagian di bawah mata agar memberikan ilusi lebih penuh. Produk highlighter khusus mata bisa digunakan untuk shadowing. Oleh karena bentuknya yang kecil, kita dapat mengkontrol penuh dalam memastikan seberapa banyak shadow yang diinginkan. Aplikasikan produk ini langsung setelah bulu mata bagian bawah, dan pastikan untuk tidak menimpa under-eye eyeliner yang kamu miliki.

4. Gunakan eyeshadow stick untuk membuat kantung mata menjadi lebih puffy

Jika tidak memiliki aegyo-sal maker, kita bisa menggunakan eyeshadow stick sebagai alternatif. Untuk hasil yang lebih maksimal, pilih warna yang senada dengan warna kulit dengan hasil akhir shimmer. Gunakan eyeshadow stick ini di kelopak mata dan bagian bawah mata. Sebagai pelengkap tambahkan highlighter dengan hasil akhir shiny dibagian bawah mata. Jangan lupakan bagian ujung mata untuk menambahkan kesan lebih segar dan menarik dalam total look kamu.

5. Gunakan pensil alis coklat sebagai alternatif lain

Selain menggunakan aegyo-sal maker dan eyeshadow stick, kita juga bisa menggunakan pensil alis untuk membuat outline di bawah mata. Pilih pensil alis yang berwarna coklat agar mudah di blend dengan warna kulit. Cara membuatnya dengan tarik garis mengikuti lengkung alami di bawah mata, lalu isi dengan eyeshadow putih di atas garis tersebut untuk memberikan ilusi lebih puffy. Agar hasilnya lebih natural, blend dengan jari sehingga tampak lebih merata.

BEBERAPA TUTORIAL MAKEUP DENGAN AEGYO SAL :




TERIMA KASIH

Monday, August 9, 2021

Belajar Bahasa Jepang

はじめまして、私の名前はアスティです。今日は日本語について説明します。

(Hajimemashite, watashinonamaeha Asti desu. Kyo wa nihongo ni tsuite setsumei shimasu)

Salam kenal, nama saya adalah Asti. Hari ini saya akan menjelaskan tentang bahasa Jepang.


HURUF DALAM BAHASA JEPANG

Jepang memiliki 4 jenis huruf :

1. Hiragana (ひらがな)

2. Katakana (カタカナ)

3. Kanji (漢字)

4. Romaji (ローマ字)


Penjelasan dari keempat jenis huruf Jepang :

1. HIRAGANA (ひらがな)

  • Hiragana digunakan untuk menulis kosakata asli dalam bahasa Jepang.
  • Misalnya: こんにちは (Konnichiwa) - halo/selamat siang, がんばって (Ganbatte) - semangat, ataupun nama orang Jepang asli.
2. KATAKANA (カタカナ)

  • Katakana digunakan untuk menulis kosakata serapan dari bahsa asing.
  • Misalnya : nama orang asing selain nama orang jepang, スマートフォン (smartphone / sumatofon)
3. KANJI (漢字)
  • Kanji berasal dari huruf china, tapi kanji dalam bahasa jepang jumlahnya lebih sedikit dari pada huruf china.
  • Kanji memiliki fungsi yang sama persis seperti hiragana, yaitu untuk menulis kosakata asli bahasa Jepang.
  • Biasanya dalam bahasa jepang dasar, suka ditulis huruf hiragana kecil kecil diatas huruf kanji, itu dinamakan Furigana (ふりがな).
4. ROMAJI (ローマ字)
  • Romaji adalah alfabet A - Z, di bacanya menggunakan spelling bahasa inggris yaitu (ei,bi,si,di,..).
  • Fungsi romaji bagi orang Jepang adalah untuk menuliskan kata - kata dari bahasa asing.
  • Sementara fungsi romaji bagi orang asing adalah untuk memudahkan orang - orang yang tidak bisa membaca tulisan Jepang.

Penjelasan diambil dari youtube :



PERKENALAN DALAM BAHASA JEPANG

Sebelum memperkenalkan diri kita perlu mengucapkan salam:

1. Ohayou gozimasu / おはようございます)- Selamat Pagi
2. Konnichiwa / こんにちは - Selamat Siang
3. Konbanwa (dibaca kombanwa) / こんばんわ - Selamat Malam

Saat memperkenalkan diri :

1. Gunakan "Hajimemashite / はじめまして" yang artinya salam kenal / perkenalkan.
2. Menyebutkan nama dengan "watashi wa ... desu / わたしは…です", 'watashi' artinya saya, 'wa' partikel penanda topik/subjek, 'desu' hanya penambahan akhiran, "..." di isi nama kalian masing - masing. Alternatif lain:
  • Watashi no namae wa ... desu (Nama saya ...)
  • Watashi wa ... to moushimasu (Saya dipanggil ...)
  • ... desu / ... to moushimasu.
3. Menyebutkan umur dengan mengatakan ".... desu", titik - titik diisi umur kalian masing - masing. Contoh : umur saya 14 tahun = juuyon-sai desu. Tidak usah di tambahkan "watashi" karena di awal perkenalan sudah menyebutkan watashi.
Dibawah ini merupakan umur dalam bahasa Jepang dari 1 - 40 tahun :

1 tahun 一歳 is-sai

2 tahun 二歳 ni-sai

3 tahun 三歳 san-sai

4 tahun 四歳 yon-sai

5 tahun 五歳 go-sai

6 tahun 六歳 roku-sai

7 tahun 七歳 nana-sai

8 tahun 八歳 has-sai

9 tahun 九歳 kyu-sai

10 tahun 十歳 jus-sai

11 tahun 十一歳 juuis-sai

12 tahun 十二歳 juuni-sai

13 tahun 十三歳 juusan-sai

14 tahun 十四歳 juuyon-sai

15 tahun 十五歳 juugo-sai

16 tahun 十六歳 juuroku-sai

17 tahun 十七歳 juunana-sai

18 tahun 十八歳 juuhas-sai

19 tahun 十九歳 juukyuu-sai

20 tahun 二十歳 hatchi

21 tahun 二十一歳 nijuuis-sai

22 tahun 二十二歳 nijuuni-sai

23 tahun 二十三歳 nijuusan-sai

24 tahun 二十四歳 nijuuyon-sai

25 tahun 二十五歳 nijuugo-sai

26 tahun 二十六歳 nijuuroku-sai

27 tahun 二十七歳 nijuunana-sai

28 tahun 二十八歳 nijuuhas-sai

29 tahun 二十九歳 nijuukyuu-sai

30 tahun 三十歳 sanjus-sai

31 tahun 三十一歳 sanjuuis-sai

32 tahun 三十二歳 sanjuuni-sai

33 tahun 三十三歳 sanjuusan-sai

34 tahun 三十四歳 sanjuuyon-sai

35 tahun 三十五歳 sanjuugo-sai

36 tahun 三十六歳 sanjuuroku-sai

37 tahun 三十七歳 sanjuunana-sai

38 tahun 三十八歳 sanjuuhas-sai

39 tahun 三十九歳 sanjuukyuu-sai

40 tahun 四十歳 yonjus-sai

4. Menyebutkan asal menggunakan "... kara kimashita" artinya saya datang dari ... Contoh : saya datang dari Indonesia : Indoneshia kara kimashita / インドネシアから来ました. Tidak usah di tambahkan "watashi" karena di awal perkenalan sudah menyebutkan watashi.
5. Menutupi perkenalan dengan mengatakan "Douzo yoroshiku onegaeshimasu / どうぞよろしくお願いします" artinya senang berkenalan dengan anda.

Penjelasan lebih lengkap mengenai cara berkenalan dalam bahasa Jepang :


TAMBAHAN PENGETAHUAN DALAM BAHASA JEPANG

1. Nama - nama hari dalam bahasa Jepang


2. Angka dalam bahasa Jepang




3. Nama anggota keluarga dalam bahasa Jepang


4. Kata sapaan dalam bahasa Jepang


5. Warna dalam bahasa Jepang


6. Pertanyaan sederhana bahasa Jepang


APLIKASI YANG MEMBANTU DALAM BELAJAR BAHASA JEPANG

*jika ingin mendownload langsung klik pada bagian namanya






ありがとう、そして幸せな学習
(Arigatō, soshite shiawasena gakushū)
Terimakasih dan Selamat Belajar